banner

banner

Senin, 20 Juni 2016

Waspadai Gangguan Kecemasan



Sebenarnya wajar saja jika kamu mengalami kecemasan atau kekhawatiran jika kondisi sedang kacau. Namun jika kekhawatiran itu sampai mengganggu dan terus-terusan menghantui hidup kamu, maka waspadalah karena bisa jadi hal itu merupakan gejala gangguan kecemasan atau  Anxiety Disorders.


Apakah rasa cemas itu membuatmu susah tidur? Apakah kamu jadi kehilangan konsentrasi belajar karena selalu cemas terhadap sesuatu? Nah kalau yang seperti ini, kecemasan bisa berpengaruh buruk terhadap sekolahmu atau karirmu. Kalau tidak segera diatasi bisa membuat rapormu jeblog atau karirmu terancam.

Kecemasan Yang Wajar
Sebenarnya kecemasan merupakan reaksi manusia yang wajar. Seperti juga rasa takut, kecemasan berfungsi sebagai salah satu mekanisme pertahanan. Kecemasan merupakan alarm untuk bersiap-siap menghadapi ancaman bahaya.  Saat tubuh dan pikiran mencium bahaya, kita akan merasakan sensasi fisik yang mengiringi kecemasan, misalnya denyut jantung yang bertambah cepat, otot mengencang, telapak tangan berkeringat, perut bergejolak, atau kaki dan tangan gemetar. Seluruh sensasi itu dirasakan oleh tubuh. Hormon adrenalin dan senyawa kimia lain berperan dalam perubahan fisik tersebut, memberi perintah tubuh agar waspada dan segera menjauh dari bahaya.

Sensasi yang dirasakan bisa lemah, sedang atau kuat. Setelah situasi dianggap sudah aman, rasa kecemasan berangsur menghilang. Namun jika pikiran kita masih mengatakan bahwa bahaya tetap ada, kecemasan pun tetap ada. Sensasi fisik seperti denyut jantung mungkin masih terus dirasakan dan bukannya berhenti.

Gangguan Kecemasan
Rasa cemas itu akan menimbulkan gangguan yang serius kalau terjadi secara berlebihan dan berulang-ulang. Yang seperti ini bukan lagi rasa cemas yang wajar. Penderita gangguan kecemasan ini pertama-tama merasa bingung dengan gejala yang dialaminya. Sensasi fisik bisa sangat kuat dan menyita emosi. Gangguan kecemasan dapat mempengaruhi konsentrasi, kepercayaan diri, pola tidur, nafsu makan dan penampilan.

Banyak penderita yang tidak ingin membahas kecemasannya dengan orang lain, karena menganggap tidak akan dimengerti. Penderita juga biasa menyalahkan diri sendiri. Selain itu mereka dihinggapi perasaan malu atau menyangka bahwa kecemasan merupakan kelemahan atau kegagalan pribadinya. Akibatnya, penderita gangguan kecemasan bisa menghindari kehidupan sosial dan tidak bisa menikmati kehidupan. Ini tentu tidak bagus untuk prestasi belajarmu, karirmu, kehidupan sosialmu ataupun kebahagiaanmu.

Gangguan kecemasan ini sering disebut Anxiety Disorders dalam istilah psikologinya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan anxiety disorders itu? Bagaimana gejalanya? Dan bagaimana mengatasinya? Anxiety disorders adalah sebuah penyakit mental yang serius. Orang dengan gangguan ini biasanya memiliki rasa cemas yang besar dan berlebihan, dan sering kali rasa cemas ini melumpuhkannya.

Beberapa jenis anxiety disorders yang bisa kamu jumpai adalah:
Panic disorders. Kamu disebut memiliki gangguan kepanikan bila merasa sering diteror secara tiba-tiba dan terjadi berulang kali. Kamu jadi sering mudah berkeringat, merasakan sakit di dada, palpitasi (detak jantung tidak teratur), dan perasaan tersedak, yang dapat membuat seseorang merasa seperti sedang mengalami serangan jantung.
Obsessive-Compulsive Disorders (OCD). Kamu bisa jadi mengalami OCD ini bila memiliki gangguan pikiran yang konstan dan ketakutan-ketakutan tertentu akan sesuatu secara berlebihan sehingga mendorongmu untuk melakukan ritual atau rutinitas tertentu. Misalnya, karena kamu takut pada kuman secara berlebihan sering kali berpikiran bahwa ada banyak kuman di sekelilingmu, sehingga setiap kali menyentuh sesuatu, kamu segera mencuci tangan atau menggunakan pembersih tangan.
Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Orang dengan gangguan PTSD ini biasanya pernah mengalami trauma atau peristiwa yang sangat mengerikan seperti pelecehan seksual atau fisik, kematian tak terduga orang yang dicintai, atau bencana alam. Orang dengan PTSD sering memiliki pikiran kejadian yang menakutkan itu akan berulang. Biasanya mereka cenderung mati rasa secara emosional.
Social Anxiety Disorders. Sering disebut juga sebagai fobia sosial, yakni kecemasan berlebihan terhadap lingkungan sosialnya. Orang-orang dengan gangguan ini biasanya takut dengan penilaian orang lain, takut diejek, takut tidak diterima oleh teman-temannya, dsb.
Spesific Phobias. Biasanya, orang-orang dengan gangguan ini memiliki ketakutan-ketakutan terhadap hal-hal tertentu. Seperti takut ketinggian, takut darah, takut ular, takut terbang, dsb.
Generalized Anxiety Disorder. Gangguan ini melibatkan rasa khawatir yang berlebihan, sering kali tidak realistis, meski tidak ada hal-hal yang memprovokasi ketakutan tersebut. Orang-orang demikian sering kali mengalami halusinasi. Gejala umum anxiety disorders:
  1. Kepanikan/kecemasan yang berlebihan
  2. Tidak terkendali, cenderung obsesif terhadap sesuatu
  3. Sering mengalami kilas balik dari pengalaman trauma
  4. Sering dihantui mimpi buruk
  5. Memiliki perilaku ritual yang aneh, misalnya sering mencuci tangan berkali-kali
  6. Sering berkeringat dingin
  7. Sesak napas
  8. Palpitasi (detak jantung tidak teratur)
  9. Tidak bisa tenang atau diam
  10. Sering mengalami ketegangan otot
  11. Mual, pusing, dan sering kesemutan. http://www.rumahbunda.com/psychology/anxiety-disorders-gangguan-rasa-cemas/

Penyebab Gangguan Kecemasan?
Penelitian telah menunjuk beberapa pemicu yang menyebabkan terjadinya gangguan kecemasan:
1. Diwarisi dari gen orangtua yang menderita gangguan kecemasan.
2. Faktor Gender dimana wanita lebih rentan terhadap gangguan kecemasan daripada laki-laki.
3. Gangguan kecemasan juga dapat dipicu oleh stres.
4. Pengalaman traumatis (misalnya seksual atau fisik cedera atau berbahaya di masa lalu) dapat mengakibatkan ketakutan dan kecemasan kemudian dalam hidup.
5. Beberapa narkoba seperti amfetamin, LSD atau ekstasi dan bahkan kopi dapat menyebabkan serangan kecemasan.
6. Pengalaman yang signifikan seperti kehilangan pekerjaan, kehamilan atau pindah rumah dapat mengakibatkan kecemasan presipitasi.
7. Gangguan kecemasan bisa disebabkan karena ketidakseimbangan kimia tertentu di dalam otak. Rasa cemas bisa muncul bila  serotonin rendah dan noradrenalin tinggi. Gangguan dari gamma - asam (GABA) di dalam otak juga bisa sebabkan gangguan kecemasan. Dalam gangguan kompulsif obsesif, neurotransmiter dopamin mungkin memainkan peran.

Cara mengatasi
Bila kamu mengalami gangguan kecemasan, apa yang akan kamu lakukan? Ada berbagai cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi gangguan kecemasan. Di antaranya  yang disebut  CBT (Cognitive Behavorial Therapy), yang dikembangkan dari Teori Psikologi Konginitf, yang dirintis oleh Aaron T. Beck (1925-sekarang), seorang psikiater dari Universtias Pennsylvania. Metode ini kemudian banyak dikembangkan oleh psikolog dan psikiater lain sedunia.

Inti dari CBT pada hakikatnya adalah menghadapkan emosi-emosi negatif (kecemasan, amarah, fobia, dan lain-lain) kepada rasio (logika, akal) pasien sendiri. Pasien diminta untuk menganalisis sendiri untung-ruginya perasaan yang mengganggu itu. Kalau terbukti tidak ada untungnya dan hanya merugikan, maka perasaan negatif itu akan ditinggalkan. (Healing-Talks Keajaiban Kata-Kata with CBT (Cognitive Behavorial Therapy), oleh Dr. Neil Aldrin, M.Psi, Puspa Swara, 15 Sep 2014, hal 5-6
           
Bila kamu diterapis dengan CBT, terapis akan menganjurkan kamu untuk menelusuri persepsi yang menyebabkan munculnya rasa cemas dan panik dalam diri kamu. Para pakar menilai bahwa akar penyebab kepanikan adalah persepsi-persepsi yang irasional, berlebihan, dan tidak produktif. Oleh karena itu, mereka menyarankan kamu untuk mencatat persepsi-persepsi itu dan memintamu untuk mencari bukti yang mendukung dan menyangkalnya. Dengan demikian, kamu akan menyadari bahwa persepsi-persepsinya tidak tepat dan berlebihan.

Nah, saat kamu menyadari hal itu, kamu pun dapat dengan sengaja merubah persepsi kamu dengan persepsi yang mendukung. Perubahan persepsi dari yang berlebihan dan desktruktif ke persepsi yang mendukung pada ujungnya memengaruhi perubahan perasaan dan emosi, dari yang tadinya cemas dan panik menjadi perasaan tenang.

Kendalanya jika pada kenyataannya banyak bukti yang mendukung persepsi yang membuat kamu cemas. Misalnya kamu selama ini taku tampil di depan kelas karena merasa bodoh maka pikiran ini tidak mudah diganti dengan pikiran bahwa kamu pintar jika pada kenyataannya kamu tidak pernah mendapat peringkat di sekolah. Kamu akan lebih mempercayai kenyataan yang kamu alami (tidak pernah mendapat peringkat) daripada kata-kata positif yang  menggambarkan diri kamu sebagai orang yang mampu.

Kalau halnya demikian, apa yang harus kamu lakukan? Nah mungkin metode yang diungkapkan Dr. Savitri Ramaiah ini bisa  dilakukan. Menurut dia, pengobatan untuk keadaan kecemasan ini mencakup empat pendekatan utama yang mencakup psikoterapi, terapi rileksasi, meditasi dan obat-obatan.

Psikoterapi ini mencakup psikoterapi wawasan dalam meliputi: a. penentuan kekuatan diri sendiri yang berkenaan dengan stabilitas hubungan kamu dengan keluarga, sahabat dan lingkungan sekolah kamu, b. motivasi untuk berobat dan, c. kemampuan menghadapi kesulitan dalam kehidupan. Dokter Kamu pertama-tama akan menilai kemampuan "menyelidiki" pikiran kamu, demi mengetahui apakah kamu menunjukkan reaksi terhadap pengobatan ini atau tidak.

Jika masalah kamu berhubungan dengan situasi-situasi khusus dan terbatas, kamu mungkin bisa terbebas dari konflik-konflik dalam melalui terapi jangka pendek, dan setelah dokter kamu membantu mengungkapkan masalah-masalah yang mendasari keadaan kamu. Pembebasan dari konflik-konflik dalam diri kamu akan menghilangkan gejala kecemasan.

Sumber:
Kecemasan, Bagaimana Mengatasi Penyebabnya, editor: Dr. Savitri Ramaiah, Pustaka Populer Obor
http://www.news-medical.net

0 komentar:

Posting Komentar