banner

banner

Senin, 20 Juni 2016

Bahaya Bullying bagi Remaja



Bagi ortu yang memiliki anak yang masih duduk di bangku SD, SMP, SMA, waspadalah bila mendapatkan anak anda mengalami tindakan bullying. Tindakan bullying tidak hanya mengganggu, tapi juga bisa membuat korbannya menjadi depresi dan bahkan bunuh diri. Usahakan agar segera bertindak menghentikan perbuatan tersebut.

          
Coba simak kisah ini. Carlos Vigil (17 tahun), remaja yang tinggal di Valencia County, New Mexico, Amerika Serikat, selama tiga tahun telah diejek kawan-kawannya hanya karena berjerawat dan memakai kacamata. Bahkan, dia dianggap seorang gay.
             
Karena benar-benar tak tahan diintimidasi terus-menerus, pada tanggal 13 Juli 2013, Carlos menulis dan memposting surat bunuh diri melalui akun Twitter. Dan ia pun kemudian melaksanakan niat bunuh dirinya itu.
            
Pengalaman yang sangat menyakitkan dialami Izzi Dix (14 tahun). Seperti apa bullying yang dialaminya hingga ia nekad bunuh diri? Simak saja puisi berisi curhatnya yang ia tulis setelah di-bully teman-teman sekolahnya saat datang ke sebuah pesta. Begini puisinya :
Mereka memaksaku pergi. Aku berdiri dalam diam. Mataku berkaca-kaca, hening.
Mereka bertanya, mengapa aku di sana.
Mereka memberitahuku, tak seorangpun menginginkanku di sana.
Mereka memberitahuku agar segera enyah, tetapi aku tak ingin.
Tak ada, tidak di mana saja…
             
Sulit dipungkiri kalau saat ini kekerasan terhadap anak atau remaja yang dikenal dengan istilah bullying di sekolah semakin meningkat. Bullying merupakan salah satu tindakan agresi yang dilakukan satu/sekelompok orang dengan tujuan untuk menyakiti atau mengganggu anak lain atau korban yang lebih lemah darinya. Mereka yang menjadi korban bullying kemungkinan akan menderita depresi dan kurang percaya diri, dan kemudian menjadi kesulitan dalam bergaul. Yang paling buruk bila sang korban lantas bunuh diri.
           
Agar kita semua bisa melakukan antisipasi, ada baiknya kita mengenal berbagai bentuk tindakan bullying. Dalam benak banyak orang, bayangan tentang agresi dan bullying di sekolah adalah beragam perilaku fisikal langsung yang "full action", seperti: memukul, mencekik, menendang ataupun bertengkar hebat dengan suara-suara lantang. Padahal ada banyak "cara dalam menyakiti orang lain, termasuk yang tampak halus dan tidak kentara sama sekali, jika kita tidak jeli. Inilah yang disebut agresi terselubung.
            
Yang pertama adalah bullying dalam bentuk fisik seperti: memukul, mendorong, mengancam secara fisik, memelototi, dan mencuri barang. Yang kedua, bullying dalam bentuk psikologis: mengucilkan, menyebarkan gosip, mengancam, gurauan yang mengolok-ngolok dan mengasingkan seseorang secara sosial. Yang ketiga, bullying dalam bentuk verbal: hinaan, bentakan, kata-kata kasar, menyindir, dan memanggil dengan julukan. Dan yang keempat, bullying di media sosial (cyberbullying).       
            
Yang perlu digarisbawahi di sini, bullying dilakukan oleh anak yang fisiknya lebih kuat dibanding korbannya. Sedangkan perkelahian antara dua orang yang kekuatannya seimbang, tidak termasuk bullying. Tapi ini bukan berarti kita membiarkan begitu saja kalau anak kita terlibat perkelahian.
               
Efek Bullying
           
Ternyata efek dari bullying tidak hanya berpengaruh pada saat anak mengalaminya saja. Penelitian dari Boston Children’s Hospital mengungkap bahwa efek bullying bisa membekas lebih lama, bahkan bertahun-tahun, pada mental dan fisik korban bullying. Penelitian telah mengungkap bahwa tindakan bullying dapat menyebabkan dampak yang buruk pada kesehatan anak.
             
Tindakan bullying juga dikaitkan dengan kesehatan mental dan fisik yang terus menurun. Anak korban bullying akan lebih rentan mengalami depresi dan rasa percaya diri yang rendah. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa kemampuan otak anak yang terkena bullying akan mengalami penurunan. Hal ini tentunya berdampak besar pada prestasi belajar anak di sekolah.
             
Berbagai penelitian tentang bullying ini menghasilkan temuan-temuan berikut ini:
Pertama, bullying di sekolah terjadi karena minimnya pengawasan pada waktu istirahat, peraturan terhadap kasus bullying tidak konsisten ditegakkan dan pemahaman atau persepsi yang berbeda antara guru dan siswa dalam menghadapi kebiasaan bullying.
Kedua, anak yang tumbuh di lingkungan yang baik, akan tumbuh menjadi generasi yang stabil, optimis serta matang secara emosional. Hal ini berarti perilaku orang tua dan keluarga secara otomatis akan membentuk pribadi dan mental anak dan lingkungan sekitar pun turut mempengaruhinya. Bila anak cukup mendapat perlindungan dan perhatian dari orang-orang terdekat, anak akan bisa menghadapi ancaman dari luar dengan optimis.
             
Fenomena bullying ini sepatutnya menjadi perhatian dari keluarga dan pihak sekolah demi upaya pencegahan. Ini karena bullying memiliki dampak psikologis yang banyak, mulai dari emosi, fisik, akademik, kepercayaan diri, perilaku koban, psikotik, bahkan hingga bunuh diri, kasus kekerasan di kalangan remaja harus ditangani secara serius melibatkan pihak sekolah, orang tua dan masyarakat.
             
Terkait temuan-temuan itu, sekolah perlu menggiatkan pengawasan dan pemberian sanksi secara tepat terhadap para pelaku bullying agar kasus seperti ini tidak terjadi lagi dan menjamin rasa aman bagi anak lainnya
             
Anak-anak dan kaum remaja memiliki jiwa yang masih labil sehingga mereka membutuhkan bimbingan terutama dari para orang tua dan keluarga. Langkah pencegahan tentunya akan sangat baik bila dilakukan sedini mungkin untuk mencegah kerusakan moral dan berkembangnya rasa frustasi yang bisa berakibat fatal untuk masa depannya.
            
Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada masa ini, remaja sedang berproses mencapai kematangan emosi, sosial, fisik dan psikis dan dimana mereka mencari jati diri mereka. Bila proses pencarian jati diri ini gagal, maka yang terjadi adalah remaja mulai meragukan peranan dan fungsi dirinya di tengah masyarakat. Akibatnya, mereka cenderung memiliki sifat menonjolkan diri, suka bermusuhan, egoistik, merendahkan orang lain, dan berburuk sangka.

Apa Yang Harus Dilakukan
            
Nah bagaimana kalau tindakan bullying itu menimpa diri anak anda? Berikut ini mengatasi bullying dari Nicola Morgan:
1. Jangan biarkan para pelaku bullying bebas begitu saja. Dengan tingkat bullying yang sepele mungkin anak anda bisa mengabaikan perbuatan mereka, tetapi jika hal tersebut tidak berhenti, atau semakin parah, jangan tinggal diam. Anda harus meminta sekolah mengambil tindakan terhadap para pelaku bully. Doronglah pihak sekolah agar menemukan cara untuk melindungi para siswanya. Minta anak anda untuk menuliskan tindakan bullying yang dialaminya untuk keperluan pelaporan pada piohak sekolah.
2. Dorong anak untuk ikut bela diri. Tak jarang bullying disertai juga tindak kekerasan. Jika ini terjadi setidaknya anak bisa melakukan pembelaan diri.
3. Doronglah anak anda agar kemana-mana jangan  sendirian. Jumlah orang yang menyertainya akan memberikan kekuatan baginya. Selain itu, ada baiknya bila ada orang lain yang menyaksikan setiap ancaman atau tanda-tanda terjadinya bullying.
4. Anjurkan anak agar tidak melawan dengan kekerasan
5. Jangan anggap bullying sebagai kesalahan anak. Pelaku bully melakukan perbuatannya terhadap siapa saja yang mereka inginkan dan itu bukan salah anak. Ya, memang ada beberapa jenis orang tertentu yang sering menjadi sasaran bully, biasanya adalah orang-orang yang berbeda dari pelaku bullying. Misalnya, orang yang sering bertanya di kelas atau yang serius dan berhasil dalam mengerjakan tugas. Kadang mereka tidak punya alasan sama sekali selain kesenangan yang mereka dapatkan dengan membully.
6. Sarankan anak-anakmu untuk bergaul dengan teman-teman yang baik.
7. Mintalah anak fokus pada apa yang membuatmu senang, baik di sekolah maupun di rumah, entah berupa hobi, olah raga, atau sekedar berkumpul dengan teman-temannya.
8. Jangan biarkan pelaku bullying menghalangi anak anda untuk berprestasi.
9. Sejauh mungkin jadilah sahabat bagi anak anda, sehingga kalau terjadi apa-apa anak anda tak enggan memberitahukan kepada anda

Sumber:
1. Lets End Bullying, Andri Priyatna, Elex Media Komputindo, 2010.
2. Panduan Mengatasi Stres Bagi Remaja (The Teenage Guide to Stress) Penerbit Gemilang, Cetakan 1, Desember 2014, , Nicola Morgan, hal. 139-141.


0 komentar:

Posting Komentar