banner

banner

Selasa, 21 Juni 2016

Kenali Gejala Depresi



Merasa sedih, murung, galau, tertekan itu biasa dalam kehidupan sehari-hari kita. Semua orang pernah mengalaminya. Kita akan merasa sedih setelah bertengkar dengan teman, putus dengan pacar atau teman kita pindah ke luar kota. Kita kecewa jika hasil ujian jelek. Kematian seseorang yang kita sayangi juga membuat kita merasa sangat sedih dan berduka.
           
Adalah normal kalau anda kadang-kadang merasa sedikit murung, sedih, atau merasa sedikit tertekan.  Akan tetapi kalau perasaan sedihmu itu sudah begitu dalam sehingga mengganggu kehidupanmu, ini yang harus diwaspadai. Apalagi bila kesedihan itu berlangsung lama dan tidak kunjung reda dan anda tak bisa bisa keluar atau melepaskan diri dari keadaan tersebut.
           
Kalau anda mengalami kondisi seperti itu berarti anda bisa dikatakan sudah menderita depresi. Depresi sendiri jelas berbeda dengan emosi sehari-hari yang kita alami. Selain adanya kesedihan yang mendalam, depresi menurut Jan De Vries, merupakan suasana hati yang diwarnai rendahnya gairah hidup, berkurangnya minat dan kesenangan dalam aktivitas sehari-hari, menurunnya level energi, kelelahan, gangguan tidur, daya konsentrasi rendah, dan selera makan terganggu.
           
Ilustrasi berikut ini mungkin bisa memperjelas pemahamanmu tentang bagaimana depresi terjadi. Tono, seorang siswa kelas 2 SMA ketika milihat rapotnya pada semester 2 kelas 1 nilainya pas-pasan, ia sempat sedih. Tapi tak lama kemudian ia bisa membuang kesedihannya itu. Ia yakin di kelas 2, ia mampu mendapatkan nilai yang baik. Namun ketika pada semester 2 kelas 2 rapotnya masih pas-pasan, kesedihannya jadi berkepanjangan dan ia mulai putus asa. Ia merasa dirinya bodoh dan tidak pintar. Ia ingin berhenti sekolah karena berpikiran percuma saja sekolah asal lulus kalau tidak bisa mencapai prestasi yang bagus. Dalam pandangannya, dengan prestasi pas-pasan seperti itu ia tak akan bisa diterima di universitas yang bagus dan masa depannya bakal suram. Kesedihannya jadi kian dalam dan berlarut-larut. Ia jadi malas belajar dan ingin menarik diri dari pergaulan.
           
Tanda-tanda Depresi   
Gejala paling umum dari depresi adalah ketidakmampuan untuk membebaskan dari kegelisahan dan suasana-suasana tertekan. Mungkin anda merasa sedih, menangis atau tidak mampu menangis. Mungkin anda berpikir, "Saya tidak bahagia dan saya selalu merasa muram."

Gejala depresi dikelompokkan ke dalam gejala depresi fisik dan biologis. Gejala-gejala depresi biologis meliputi waktu menjawab yang lebih lambat, perubahan nafsu makan atau berat badan, masalah-masalah tidur, kehilangan ketertarikan atau kesenangan dalam aktivitas-aktivitas biasa.
           
Gejala-gejala yang termasuk depresi psikologis meliputi perasaan-perasaan putus asa, kurang percaya diri dan layak diri, pemikiran negatif, distorsi-distorsi kognitif, memandang dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang negatif, kebimbangan, pikiran-pikiran bunuh diri. Lalu juga merasa sedih, apatis, khawatir, dan seringkal merasa bersalah. Proses pikiran itu didominasi oleh pandangan negatif pada diri sendiri, dunia, dan orang lain.
           
Ahli psikologi California, John Preston, dalam bukunya You Can Beat Depression, sudah mengidentifikasikan beberapa gejala tambahan yang mungkin menyertai dua tipe depresi itu: konsentrasi dan ingatan yang buruk (pelupa), hipokondria, penyalahgunaan obat/alkohol, kepekaan yang berlebihan, dan suasana hati yang cepat berubah.
           
Daftar gejala-gejala depresi cukup panjang, namun jika anda mengalami tiga atau lebih gejala ini atau bermaksud bunuh diri, segera berkonsultasilah pada seorang ahli psikologi atau profesional kesehatan mental lainnya yang teruji untuk menangani depresi.
           
Untuk mengetahui anda sudah menderita depresi atau belum, coba isi kuis berikut ini:
1. Saya merasa sedih                                                              
Tak Pernah      Jarang             Sering
2. Saya merasa khawatir                                                        
Tak Pernah      Jarang             Sering
3. Saya tidak memperoleh  kenikmatan, kesenangan, kepuasan seperti yang biasa saya  peroleh.                            
Tak Pernah      Jarang             Sering
4. Saya lebih  jengkel dan kecewa dari biasanya                   
Tak Pernah      Jarang              Sering
5. Sulit bagi saya untuk  memutuskan                                   
Tak Pernah      Jarang              Sering
6. Lebih sulit untuk menyelesaikan pekerjaan                       
Tak Pernah      Jarang              Sering
7. Saya mempunyai masalah tidur  (misalnya kurang tidur atau  berlebihan dri biasanya)
Tidak Pernah   Jarang              Sering
8. Nafsu makan saya tidak sebaik biasanya                           
Tidak pernah   Jarang              Sering

Jika anda menandai empat atau lebih di dalam kolom "sering" atau jika anda bermaksud bunuh diri, berkonsultasilah kepada seseorang yang profesional.

Mengapa Orang Terkena depresi?
Berikut ini paparan yang lebih rinci tentang sejumlah faktor yang menyebabkan terjadinya depresi secara umum:
  • Kekerasan. Kekerasan fisik, pelecehan seksual, atau emosional di masa lalu dapat menyebabkan depresi di kemudian hari.
  • Obat-obatan Tertentu. Sebagai contoh, beberapa obat yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi, seperti beta-blocker atau reserpin, dapat meningkatkan risiko depresi.
  • Konflik. Depresi dapat disebabkan dari konflik pribadi atau perselisihan dengan anggota keluarga atau teman-teman.
  • Kematian atau Kehilangan. Kesedihan atau kedukaan karena kematian atau kehilangan orang yang dicintai, meskipun ini alami, juga dapat meningkatkan resiko depresi.
  • Genetik. Riwayat keluarga yang memiliki depresi dapat meningkatkan risiko depresi. Hal ini karena diperkirakan depresi diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Walaupun masih belum diketahui secara pasti bagaimana hal ini dapat terjadi.
  • Peristiwa Besar. Berbagai peristiwa seperti memulai pekerjaan baru, kelulusan, atau menikah dapat menyebabkan depresi. Begitu juga dengan perpindahan tempat, kehilangan pekerjaan atau pendapatan, bercerai, atau pensiun.
  • Masalah Pribadi yang Lain. Masalah-masalah seperti isolasi sosial akibat penyakit jiwa atau dikucilkan anggota keluarga atau masyarakat juga dapat menyebabkan depresi.
  • Penyakit Berat. Kadang-kadang depresi berdampingan dengan penyakit berat atau merupakan reaksi terhadap penyakit.
  • Penyalahgunaan Narkoba. Hampir 30% dari orang-orang dengan masalah ini, juga memiliki depresi berat atau klinis.
             
Beda Stres dan Depresi
Stres adalah suatu reaksi psikologis dan fisik atas tuntutan hidup sehari-hari yang melampaui kemampuan seseorang untuk mengatasi masalah secara tuntas. Itu bisa muncul di saat terjebak kemacetan, akan berpidato di depan kelompok, antri di ruang tunggu dokter atau cemas akan kemungkinan kehilangan pekerjaan. Reaksi stres manusia terjadi secara otomatis. Stres bisa berakhir sendiri dengan segera tapi pada orang yang kehilangan pekerjaan misalnya, stres akan sulit segera menghilang.
           
Dalam situasi darurat, kelenjar andrenalin (yang terletak di atas ginjal) mengeluarkan hormon kortisol hingga situasi darurat ini berlalu. Kemudian tubuh kembali pada fungsi normalnya. Namun stres kronis lebih kompleks dan berlangsung lebih lama. Ketika tubuh dikondisikan pada keadaan kortisol tinggi untuk jangka waktu yang lama, kesehatan kita akan terganggu. Penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa peningkatan produksi kortisol yang disebabkan oleh stres kronis jangka panjang dapat merusak keseluruhan sistem syarat dan menekan kemampuan sistem kekebalan tubuh.
           
Bukti telah cukup menunjukkan bahwa gaya hidup yang memungkinkan stres tingkat tinggi dapat merusak jantung, meningkatkan tekanan darah dan menimbulkan masalah pencernaan. Tidaklah mengejutkan, stres juga dapat merusak otak, bahkan mengakibatkan penuaan dini pada sel otak. Stres juga dapat mengakibatkan kerusakan jaringan, mengganggu fungsi tulang, otot dan syaraf, serta meningkatkan kadar racun di dalam tubuh.
           
Lalu apa hubungannnya antara stres dan depresi? Banyak bukti yang menunjukkan  bahwa stres akut dan kronis menyebabkan depresi. Namun sebenarnya tidak semua orang yang berhadapan dengan stres akan mengalami depresi. Salah satu faktor lain yang bisa mencegah orang yang terkena stres menjadi depresi adalah dukungan sosial. Individu-individu yang memperoleh dukungan sosial kecil kemungkinan akan mengalami depresi. Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan stres kurang dialami sebagai stres apabila kesulitan (beban) dapat dibicarakan bersama dengan orang lain. Dengan demikian, tidak adanya dukungan sosial dapat menyebabkan depresi dan juga memperpanjang depresi.

Mengatasi Depresi
Apa yang harus kita lakukan bila kita mengalami depresi. Berikut ini solusi untuk depresi tanpa menggunakan obat:
1. Olahraga
Olahraga dapat meredakan depresi, yakni dengan mengatur norepinefrin dan serotonin dalam otak.
Profesor psikiatri dan ilmu perilaku dari University School of Medicine, di Durham, P. Murali Doraiswamy, MD, merekomendasikan berolahraga 3-5 kali seminggu selama 20 sampai 30 menit.
"Latihan aerobik, seperti jalan cepat di atas treadmill, adalah yang terbaik," ujarnya seperti dilansir health.com.
2. Terapi cahaya
Salah satu cara untuk mengurangi gejala depresi adalah terapi cahaya, di mana Anda duduk di dekat kotak terang benderang. 
Terapi ini biasanya dimulai  sekitar 15 menit hingga dua jam setiap  hari.
3. Buku harian suasana hati
Dr. Doraiswamy merekomendasikan Anda untuk menulis suasana hati dalam buku harian dan menyimpannya. Hal ini membuat Anda melacak hal-hal positif dalam hidup Anda. Sekalipun demikian, ia tidak merekomendasikan Anda menulis buku harian saat terlalu banyak pekerjaan.
4. Akupuntur
Beberapa penelitian menunjukkan akupuntur dapat mengurangi depresi. Salah satunya penelitian dari Universitas Arizona yang menemukan 64 persen dari 33 orang wanita berkurang depresinya setelah melakukan akupuntur dibandingkan 27 persen sisanya yang tidak. 
5. Dukungan kelompok
Dr. Doraiswamy mengatakan dukungan kelompok merupakan cara terbaik untuk mengobati depresi ringan karena memberikan kesempatan untuk belajar dari orang-orang yang berurusan dengan masalah yang sama.
6. Terapi perilaku kognitif
Terapi perilaku kognitif (CBT)  dianggap terapi jangka pendek, karena dilakukan selama 10 - 20 sesi. CBT telah terbukti sama efektifnya dengan obat dalam mengobati depresi ringan sampai sedang.
7. Minyak ikan
Suplemen ini mengandung asam lemak omega-3 yang ditemukan pada ikan, termasuk ikan salmon, albacore tuna dan ikan haring.Sebuah studi menunjukkan kekurangan asupan asam lemak ini pada waktu tertentu dapat menyebabkan perubahan suasana hati dan depresi.
8. Meditasi
Sebuah penelitian menunjukkan meditasi dapat mencegah depresi kambuh. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kambuhan untuk orang yang menggunakan meditasi adalah sama dengan yang mengambil antidepresan (sekitar 30%), dan lebih rendah dibandingkan pada plasebo (sekitar 70%).
9. Kunyit
Sebuah studi dalam Journal of Ethnopharmacology menyatakan kunyit dapat meningkatkan kadar serotonin dan bahan kimia lainnya di otak. Penelitian pada 38 orang selama enam minggu, menemukan bahwa kunyit sama efektifnya dengan fluoxetine (Prozac) dalam mengurangi gejala depresi.
Peserta yang mengonsumsi kunyit mengaku hanya sedikit merasakan efek samping dari tanaman ini, termasuk berkeringat dan disfungsi seksual, daripada mereka yang mengonsumsi fluoxetine.
10. Yoga
Penelitian telah menunjukkan berlatih yoga dapat mengatasi gangguan emosi dan depresi berat, mengurangi stres, permusuhan, kecemasan dan meningkatkan energi, kualitas tidur, dan kesejahteraan.

Sumber:
  1. Kesehatan Mental 2,  Yustinus Semiun, OFM, Penerbit Kanisius,  2006.
  2. Emotional Healing Mengendalikan Emosi dan Kecemasan, Jan De Vries, Selasar Publishing, Maret 2009.  
  3. How you Feel Is Up To You Rahasia Kekuatan Pilihan Emosional, Gary McKay, Phd, and Don Dinkmeyer, Phd, Grasindo.
  4. Gangguan Kebahagiaan Anda dan Solusinya, EB. Surbakti, Elex Media Komjputindo, MA, 2010.
  5. http://www.antaranews.com
  6. http://dokita.co

0 komentar:

Posting Komentar