banner

banner

Minggu, 08 Februari 2015

Cinta Itu Membunuhmu

Aaron Ben-Zeév, Ph.D. dalam  In the Name of Love mengungkapkan, lebih dari 30% wanita korban pembunuhan di AS dilakukan oleh pasangan/pacar atau mantan kekasih. Ini menimbulkan pertanyaan  bagaimana mungkin seseorang membunuh orang yang dicintai atau pernah menjadi kekasihnya?


Cinta umumnya dianggap sebagai emosi yang mementingkan moral  dan bertujuan baik. Akan tetapi pemikiran cinta yang diidealisasi ini jauh dari realistik. Tidak hanya cinta itu bersifat ambivalen, tapi ia dapat juga membangkitkan konsekuensi-konsekuensi yang berbahaya.

Membunuh seseorang yang dicintai adalah contoh bagaimana cinta bisa pergi ke arah yang salah karena dipakainya prinsip totalitarianisme dan ekstrimisme, agaknya daripada prinsip-prinsip kompromi dan akomodasi.

Penjelasan yang diberikan untuk pembunuhan istri adalah menjadi bahan bahasan perdebatan yang terus-menerus. Dalam buku In the Name of Love: Romantic Ideology and Its Victims (Oxford, 2008), Aaron Ben-Ze'ev dan Ruhama Goussinsky mengungkapkan, bahwa pelaku pembunuhan istri mengaku melakukannya sebagai bagian dari cinta dan bukan karena kebencian atau kecemburuan.

Ruhama Goussinsky telah melakukan wawancara mendalam dengan para pembunuh. Delapan pria pembunuh yang diinterview adalah tahanan yang dituduh membunuh (15 orang) atau berusaha membunuh (3 orang) pasangan wanita mereka. 12 pria dihukum penjara seumur hidup, dan enam orang dipenjara antara 9 sampai 14 tahun.

Walaupun ada perbedaan motif cinta di antara pria-pria itu untuk istri yang mereka bunuh, hampir semuanya berpegang pada ideologi romantik dalam versi yang ekstrim. Mereka menggambarkan cinta mereka dengan menggunakan istilah-istilah seperti mendalam, unik, abadi, tak tergantikan, dan disifati dengan keaslian tindakan. Wanita yang tidak akan pernah kembali itu juga menjadi seseorang atau satu-satunya cinta sejati yang tidak akan pernah kembali. Ketika seorang pembunuh mengatakan, "Ia adalah segalanya bagiku...saya mencintainya. Ia adalah yang pertama saya mengatakan, 'Saya mencintaimu'."

Dan seseorang yang lain mengatakan, "Saya hanya cinta pada satu wanita, bahkan walaupun saya memiliki begitu banyak gadis...Itu adalah cinta pertama. Saya punya banyak pacar sebelumnya, yakin, tidak ada yang kurang cantik dibanding dia, tapi ia menjadi satu-satunya yang saya cintai. Saya ingat semua gadis-gadis itu. Saya memiliki banyak pacar. Tapi saya mencintainya lebih dari semua dari mereka. Itu berarti bagiku, ia adalah seseorang dan satu-satunya orang. Hingga sekarang saya katakan hanya dia, dan tidak ada orang lain, bahkan apabila saya sudah keluar dari penjara, tidak, dalam kehidupanku, tidak pernah."

Sangat sulit menerima pengakuan para pembunuh itu bahwa mereka melakukan pembunuhan terhadap istri karena cinta. Bagaimana cinta yang berkaitan dengan aktivitas-aktivitas kebajikan terhadap orang yang dicintai diwujudkan  dengan cara membunuh yang merupakan bentuk penghancuran terhadap orang yang dicintai.

Aaron Ben-Ze'ev mengatakan, pembunuhan istri dapat dijelaskan dalam kerangka mekanisme kepribadian yang dikategorikan sebagai "kecemburuan patologis" atau "posesif seksual."

Melanie Tonia Evans membeberkan bagaimana mengidentifikasikan “cemburu dan iri buta” yang bersifat patologi. Uraian ini untuk memperingatkan kita semua kapan kita masih bisa tinggal dengan kekasih kita atau harus menjauhinya karena mungkin akan berujung maut.

Cemburu Patologis

Berikut ini adalah tanda-tanda seorang pria menderita cemburu patologis:
1.      Tuduhan memandang pria lain,
2.      Kontak mata dengan seorang pria dianggap godaan,
3.      Tuduhan memberikan perhatian pada pria lain,
4.      Tuduhan tidak perhatian ketika tidak mendapatkan kontak tubuh yang cukup atau perhatian di depan public dari pasangannya
5.      Interogasi terhadap perilaku pasangan
6.      Interogasi terhadap panggilan telepon dan semua bentuk komunikasi yang dilakukan pasangan.
7.      Membaca diari, untuk menyelidiki pasangan,
8.      Pertanyaan yang terus-menerus: dimana anda berada, dengan siapa,
9.      Menuntut laporan tentang pria-pria yang ada di perusahaan pasangan
10.  Mengisolasi, tidak mengizinkan pasangan bersosialisasi tanpa dia,
11.  Mengancam  balas dendam bila pasangan tidak mengikuti kehendaknya
12.  Menyandera kunci mobil dan uang pasangan
13.  Menyembunyikan makeup, merusak pakaian milik pasangan
14.  Menginterogasi dan membuat tuduhan apabila pasangan terlambat pulang,
15.  Menetapkan aturan dan kondisi pada pasangan, yang berkaitan dengan kontak dengan pria lain
16.  Melakukan pemeriksaan terhadap pasangan
17.  Tuduhan afair pada pasangan yang lari atau berusaha melepaskan diri dari aturan yang dibuatnya
18.  Tuduhan afair ketika pasangan tidak mau memenuhi libidonya
19.  Tidak bisa diyakinkan pasangan
20.  Tidak mempercayai pasangan
21.  Melakukan kekerasan verbal dan fisik yang dipicu oleh cemburu,
22.  Menyalahkanmu ketika cemburu,
23.  Selalu menuduh ketika cemburu,
24.  Mengingkari cemburu
25.  Mencoba mengacaukan kepercayaan diri dengan kekerasan verbal atau fisik
26.  Mencoba membuktikan ada alasan untuk cemburu dengan kekerasan.

 Manipulasi Kecemburuan Patologis.
Tehnik-tehnik yang umumnya digunakan individu-individu cemburu patologis adalah sebagai berikut:
1.      Menyatakan pasangan menyebut nama pria dalam tidurnya.
2.      Menyebut pasangan terlihat di sebuah supermarket sedang berbicara dengan pria
3.      Menyebut dapat informasi dari eks teman bahwa pasangan berbuat maksiat di masa lampau.

Sumber: melanietoniaevans.com

0 komentar:

Posting Komentar